Sebulan sudah rehat ngeblog, 2 minggu kemaren saya kalah sama musim pancaroba yang memaksa saya untuk rehat seminggu total di ranjang. Tak kira masuk angin biasa ternyata, setelah 5 hari demam g kunjung hilang, saya periksa dokter dan jeebreeettt…. dokter bilang sambil santai dan duduk bersandar di kursi “wah maaf mas saya tidak berani menyimpulkan anda sakit apa dan saya tidak berani memberikan obat kemungkinan anda DB atau Tipes.”  dan dokter menyarankan untuk cek lab untuk tau pastinya kena DB atau Tipes. Ya dah langsung ke RS dan positif Tipes. Disuruh opname hadewww enggak dok obat jalan aja.. boleh tapi dengan syarat besok harus cek lab lagi. Kalo sistem kekebalan tubuh membaik habisin obatnya. tapi kalo malah semakin drop harus opname. Okelah… Untuk pembuka setelah rehat, artikel ringan aja dulu.. Seputar pemakaian knalpot racing untuk harian. Memang untuk peraturan tentang penggunaan knalpot racing untuk harian bisa dikatakan masih menggantung. Jadi Sah-Sah saja jika memakainya… Mungkin jika ada aparat yang menindak landasan hukumnya karena mengganggu pengguna jalan yang lain.

Pict pinjam dari pusatknalpot
Pict pinjam dari pusatknalpot

Tapi bukanya bebas dalam pemakaian anda harus ingat masih ada hukum adat/norma susila/norma kesusilaan/norma moral yang berlaku di masyarakat. Norma kesusilaan adalah norma yang bersumber dari hati nurani (batin) manusia agar manusia selalu berbuat kebaikan dan tidak melakukan perbuatan yang tercela. Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang sama dan selalu mengajak pada kebaikan dan kebenaran. Karenanya, ketika melakukan pelanggaran terhadap teguran hati nurani, akan timbul penyesalan dan rasa kecewa yang mendalam. Apa hubunganya dengan knalpot racing? Memang belum ada aturan resminya tapi Sopan dalam penggunaanya itu jadi pengikat dengan Norma.

Contohnya saat di lampu merah motor dengan knalpot racing di geber2, ternyata di belakang ada bapak2 dan ibuk2 bawa anaknya yang masih 5 th di depan…

Contoh lain yang baru kemaren terjadi di lingkungan saya..

Jumat 6 Des 2013

Jam 11.30 saya berangkat dari rumah untuk sholat jum’at di masjid deket rumah. Alhamdulillah Ibadah Jum’at belum di mulai. Selang 15 menit jamaah sudah berkumpul. Khotbah pun dimulai, khotib mengucapkan salam dan muadzin pun mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai khotbah di mulai dan khotib membaca hamdalah di khotbah pertama pun belum selesai, datang bapak2 30 th an. Datang dengan motor yang berknalpot racing dengan suara mengelegar masuk ke pekarangan masjid. Suara dentuman motor sempat membuat telinga berdenging dan mengalahkan suara khotib padahal khotib pakai pengeras suara. Seketika khotib menghentikan khotbahnya dan diam sejenak. Semua pandangan terarah pada si tersangka.. seolah semua berkata “tidak tau aturan”. Setelah si tersangka duduk baru khotib kembali melanjutkan khotbahnya.. dan kalimat pertama yang terucap..

“Alangkah baik nya ibadah jum’at hari ini kita mulai dari awal kembali. Karena rukun sholat jum’at sudah terhalangi dengan suara bising yang mengganggu khotbah sehingga khotbah tidak dapat di dengar oleh sebagian jamaah. Silahkan bagi yang ingin berwudhu kembali setelah itu kita ulang dari awal.” Khotib pun turun dari mimbar dan berwudhu kembali di ikuti oleh jamaah..

Padahal di depan gapura masjid sudah ada tulisan “jika khotbah sudah dimulai kendaraan dimatikan saat masuk ke area masjid” tentu tidak akan susah jika harus mendorong sekitar 20 m dari pintu gerbang sampai tempat parkir. Atau bisa juga parkir di luar di tempat parkir mobil. Tapi semua itu tidak di indahkan oleh si tersangka.

Jika anda sebagai tersangka di dua kasus di atas.. bagaimana perasaan anda..?? jawab dengan Hati Nurani anda…

Perihal sesuatu yang belum ada aturan tetapnya bukan berarti tidak ada/terlepas dari hukum. Hukum itu berupa NORMA.. Sangsi nya Rasa kecewa, menyesal dan sedih dari hati sendiri. Jika sudah berat bisa sampai di tegur oleh orang lain seperti contoh ke dua.

Nb: Bukan berarti saya melarang penggunaan knalpot racing untuk harian. Tapi lebih bijaksana dalam pemakainnya saja.. Kalo di jalan tengah hutan silahkan di geber sesuka hati, tapi di perkotaan dan pemukiman apalagi di gang saya sarankan jangan. Hormati juga masyarakat lain dengan sopan santun anda.

Hati Nurani disini tidak ada sangkut pautnya dengan Hanu*a..